Sportify.id - Ada yang “tumben” ketika Presiden Prabowo bertemu Presiden FIFA, Gianni Infantino, di New York, baru-baru ini.
Foto yang beredar memperlihatkan momen hangat. Dua presiden saling genggam tangan, dan vandel penghormatan pun diserahkan. Tapi di balik senyum dan jabat erat itu, publik sepak bola sempat melirik kanan-kiri: “Lho, Erick Thohir dimana dan kemana?”
Pertanyaan itu wajar. Erick bukan pejabat biasa. Saat ini, dia Menpora sekaligus Ketua Umum PSSI. Nama Erick sudah terpatri dalam setiap peristiwa berbau FIFA. Dari melobi FIFA karena tragedi Kanjuruhan, lobi host Piala Dunia kelompok umur, membawa kantor perwakilan FIFA ke Jakarta, hingga bikin TC Timnas di IKN pakai dana hibah FIFA, dan banyak lagi. Sempat kita lihat, dia dan Infantino seperti sohib lama.
Singkatnya, ia terbiasa tampil di depan dalam urusan dengan FIFA. Sampai saking terdepannya, yang lain baru boleh bicara ketika dia kedipin.
Namun kali ini, panggung internasional Indonesia - FIFA berjalan tanpa dirinya. Seolah-olah Erick jadi “pemain cadangan” yang menunggu peluit masuk.
Apakah ia sibuk beradaptasi dengan kursi barunya di Kemenpora? Atau masih ribet beres-beres perabotan dan berkas kerjanya di BUMN? Bisa jadi. Tapi absennya Erick juga mengajarkan satu hal. Di sepak bola, kadang-kadang, sehebat apapun strategi, keputusan akhir tetap di tangan presiden, entah presiden klub, federasi, atau negara.
Mungkin ini bukan soal dilupakan. FIFA memang sering dan suka berurusan langsung dengan kepala negara, bukan melulu sekelas menteri atau Ketum Federasi. Maklum anggota FIFA lebih banyak dari PBB.
Tapi absennya Erick tetap mengundang tafsir. Ada yang menyebut ini sinyal serius ironi kekuasaan. Ada pula yang menganggap ini hanya ujian, apakah Erick bekerja murni untuk bola, atau terseret arus politik yang selalu lebih besar dari sepak bola itu sendiri.
Di titik ini, sepak bola Indonesia kembali menunjukkan wajah aslinya, drama tak hanya terjadi di lapangan, tapi juga di ruang diplomasi. Sepak bola yang seharusnya permainan rakyat, ujung-ujungnya bisa tetap tunduk pada protokol kekuasaan.
Gol bisa ditentukan VAR, selain wasit. Tapi nasib pejabat sering ditentukan “kamera politik” yang lebih kejam dari sorotan ribuan mata di stadion sekelas GBK.
Maka, bila Erick ingin berkaca, ia tak perlu bercermin di rumahnya. Cermin paling jujur adalah bercermin pada dinamika kekuasaan yang ia ada didalamnya. Tempat di mana kerja kerasnya bisa redup hanya karena tiba-tiba tak ter-framing dalam sebuah foto bareng FIFA. Sebagaimana selama ini.
Tabik
Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola.