Di pojokan kafe bergaya Betawi. Ada kursi rotan, kipas tua yang berderit, pelayan yang tampak lesu dan dua sosok yang duduk berhadapan. Shin Tae-yong (STY) dan Patrick Kluivert (PK).
Sore itu di Senayan masih panas. Sepanas komentar warganet dan fans Timnas yang kecewa karena Indonesia baru saja gagal ke Piala Dunia 2026.
Dua nama besar, dua nasib yang selalu diseret ke lapangan perbandingan abadi. Oleh publik sepak bola nasional yang haus prestasi dan sering rancu memahami kata ekspektasi.
STY menyeruput americano dengan tatapan tajam, seperti sedang menilai akurasi passing pemain lokal.
PK menatap espresso-nya dengan gaya elegan, seolah memikirkan cara membuat tiki-taka di lapangan becek.
Lalu mereka mulai bicara. Dengan logat campur-aduk, sedikit bahasa tubuh, dan niat berusaha jujur. Karena ini ngopi bukan bareng Erick Thohir.
“Kamu tahu, Patrick?” kata STY, “Di Indonesia, kalau kamu menang, kamu pahlawan. Kalau kalah, kamu cuma pelatih tarkam bergaji miliaran.”
PK mengangguk pelan. “Aku mulai paham. Tapi kenapa penggemar sepak bola di sini begitu rakus memamah sejarah buruk?”
“Karena sejarah baiknya jarang ada,” jawab STY sambil mengaduk kopi.
“Seperti tak ada pilihan. Tapi ya… kalau aku kalah, aku juga tetap dirujak. Bedanya, dulu aku dimaki pakai sambel rujak yang masih ada manis-manisnya,” tambah STY nyengir.
PK cuma tertawa kecil.
“Aku baca itu di media. Katanya kamu jago merawat peluang. Suka bikin penasaran. Makanya kamu sekarang dirindukan seperti mantan yang jago mijit.”
Keduanya tertawa pelan.
Bukan karena lucu, tapi karena sadar. Mereka sedang jadi korban dari cinta publik yang terlalu posesif. Cinta yang kalau tak bisa memiliki, memilih memaki.
“Aku dipanggil ke sini,” kata PK.
“Mereka pikir aku penyihir. Datang, bawa tongkat ‘abrakadabra’, langsung lolos Piala Dunia.”
STY terkekeh. “Hehehe… di sini, Patrick, harapan itu harga mati. Jangan pernah berjanji. Walau katanya ini negeri religius, yang percaya sebaik-baiknya berharap itu pada Tuhan, bukan pada manusia.”
Pelayan datang membawa dua piring kue cucur. PK menatap si cucur lama, seperti sedang menganalisis taktik lawan.
STY menawarkan, “Makan aja. Rasanya manis, kayak pujian fans waktu kamu pertama datang. Tapi hati-hati, kalau kelamaan dikunyah, rasanya jadi pahit.”
Di meja sebelah, dua fans memperhatikan dari balik HP-nya. Yang satu pakai jersey merah Timnas terbaru, yang satu lagi jaket putih bertuliskan “Akamsi!”
“Tuh kan,” bisik si merah, “Mereka aja akur, kenapa kita ribut?”
“Ya namanya juga kita,” jawab si putih, “Susah bahagia kalau nggak ada yang dibandingin.”
PK menatap keluar jendela. Langit mulai oranye, tapi Senayan tetap bising.
“Aku mulai paham kenapa kamu bertahan lama dan dirindukan, Shin,” tiba-tiba PK berkata.
“Karena aku jago menciptakan euforia?” STY mencoba menebak.
“Bukan. Karena kamu pandai mengolah ekspektasi jadi selebrasi, meski masih jauh dari prestasi.”
STY tersenyum pahit.
“Patrick, di sini orang mencintai sepak bola dengan cara yang spiritual tapi brutal.”
“Maksudmu?” PK menyelak.
“Mereka percaya keajaiban dan keberuntungan. Menang adalah pahala, kalah adalah dosa!”
Azan magrib berkumandang.
Kopi sudah tiris. Mereka harus cabut. Keduanya berdiri, saling menepuk bahu sambil berjalan ke parkiran.
“Semoga kamu nggak menyerah,” kata STY.
“Dan semoga dipertahankan.”
“Entahlah… melatih di atas euforia yang kamu bangun itu rumit.” PK menanggapi.
STY tertawa. “Haha… itu DL, Bro!”
“Apa itu DL?”
“Derita Luh!”
Tawa mereka pecah.
Tawa dua pelatih yang sadar logika sepak bola Indonesia ada bengkok-bengkoknya.
Sebelum mereka masuk mobil masing-masing, pelayan kafe teriak, "Sir, ente belom pada bayar!!!"
Tabik.
Oleh: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola