Di sebuah malam yang lengang di Senayan, Patrick Kluivert duduk sendiri di bangku cadangan yang kosong. Lampu stadion sudah mati, tapi bayang-bayang pertarungan belum benar-benar pergi dari pikirannya.
Lawan berikutnya adalah Tiongkok, setelahnya Jepang. Ia tahu, bukan hanya pertandingan yang akan ia hadapi, tetapi sejarah, harapan, dan kecurigaan yang telah lama tumbuh di tubuh sepakbola Indonesia.
Dia datang bukan sekadar sebagai legenda. Ia datang membawa nama yang dulu menakutkan di Eropa. Dan kini, ia harus membuktikan ulang di tanah yang jauh dari rumah. Seorang striker besar yang kini harus membentuk kesatuan dari skuad yang masih belajar percaya pada dirinya sendiri.
Kluivert tahu, menjadi legenda tidak memberi jaminan kemenangan. Justru sebaliknya. Hanya memberi beban lebih berat.
Dalam diam, ia merenung seperti Marcelo Bielsa yang pernah berkata, “A good coach is someone who suffers silently so his players can play freely.”
Itulah yang kini ia rasakan. Bukan strategi yang menjadi beban utamanya, tapi atmosfer. Bisik-bisik publik yang belum yakin, tekanan federasi yang punya misi proyek, dan sejarah panjang pelatih asing yang datang lalu pulang dengan kepala tertunduk. Entah sedih, lelah, atau kecewa.
Kluivert tahu ia bukan hanya melatih tim. Ia sedang bertarung dengan trauma kolektif bangsa ini terhadap sepakbola. Trauma sulit menang apalagi juara. Baik di kawasan apalagi pentas dunia.
Dan dalam kontemplasinya, ia menggenggam tiga hal.
Pertama, ketakutannya. Bahwa ia berjarak dalam membentuk kultur pemainnya. Ia takut semangat mereka bisa patah bukan karena taktik, tapi karena beban ekspektasi.
Kedua, kepercayaannya. Bahwa bakat mentah Indonesia sudah lebih dari cukup. Pemain naturalisasi/diaspora seperti Jay Idzes, Ole Romeny, hingga Rafael Struick hanyalah permukaan dari potensi yang bisa meledak jika ditangani dengan sabar dan cermat.
Ketiga, keyakinannya. Bahwa sepakbola adalah bahasa universal—dan seperti ia pernah menyatu dengan Rijkaard, Davids, dan Bergkamp, ia kini harus menyatu dengan Marselino dan Rizky Ridho.
Di ruang ganti, ia berbicara dengan tenang. Tidak teriak, tidak menggurui. Katanya dingin, “Sepakbola bukan tentang menjadi bintang sendirian. Tapi tentang membuat yang lain bersinar bersamamu.”
Kata-kata itu tak asing. Dulu, Johan Cruyff pernah mengucapkannya padanya.
Kini, ia mencoba menyalurkan kilau bintangnya kepada anak-anak muda yang masih bertarung dengan rasa percaya diri yang kadang masih goyah.
Ia bukan lagi penyerang haus gol, tapi mentor yang harus membuat timnya percaya. Bahwa mengalahkan Tiongkok bukanlah mimpi, dan menahan Jepang adalah mungkin, jika mereka bermain sebagai satu kesatuan tak tergoyahkan.
Bagaimana dia bsia lebih baik dari Shin Tae-yong?
Bukan teknik. Bukan prestasi. Tapi karena Kluivert datang dengan sesuatu yang STY tak miliki. Yakni cermin karakter pemain bintang dari negara bertabur bintang sepak bola, Belanda.
Dan bila ia berhasil menyalakan percikan itu dalam skuadnya, maka Indonesia tidak hanya mendapat pelatih, tetapi pemahat ulung sejarah sepakbola nasional dan kawasan.
Malam belum berakhir. Tapi Kluivert tahu, fajar selalu datang untuk mengajar orang untuk sabar. Dan di setiap latihan, di setiap sentuhan bola, ia menanamkan satu hal, “Tak ada yang lebih indah dari ketika satu tim kecil menolak tunduk pada takdir besar yang ingin mengalahkannya.”
Penulis: Golgasme | Penikmat Sepak Bola