Sportify.id - Ada kemiripan kecil antara Indonesia dan Maroko. Sama-sama negara yang gemar bermimpi besar lewat sepak bola. Bedanya, Maroko sudah bangun, sementara kita masih mengucek-ucek mata, nyari sandal mimpi yang tadi jatuh di bawah ranjang kenyataan.
Sekarang, PSSI sudah punya belasan pemain diaspora-naturalisasi aktif di Timnas Senior. Mereka didatangkan demi satu visi besar. Mempercepat mimpi ke Piala Dunia. Tapi belakangan kita tahu, ternyata “mimpi” itu bukan “target”. Kata PSSI.
Lucu juga sih. Kayak orang beli tiket VIP nonton Timnas di GBK, teriak-teriak 90 menit, terus bilang ke temen, "Gak expect kok, cuma pengen ngonten.”
Kalau memang bukan target, ya enggak apa-apa. Tapi tolong, target selanjutnya jangan cuma soal jumlah pemain naturalisasi, tapi bagaimana merawat mereka jadi prestasi.
Sebab kalau naturalisasi dianggap prestasi federasi, maka publik berhak bertanya, “Prestasi buat kami apa, Tuan?”
Karena publik juga punya investasi. Bukan cuma uang pajak dan rasa nasionalisme, tapi juga waktu, harapan, dan jantung yang dipaksa deg-degan mulu tiap kali Timnas main.
Nah, yang mulai mau ditanya sekarang bukan soal siapa lagi yang mau dinaturalisasi, tapi bagaimana nasib yang sudah dinaturalisasi.
Apakah mereka akan benar-benar jadi jaminan dari masa depan sepak bola kita, atau cuma figuran di drama instan “Road to World Cup” yang tayangnya keburu tamat di round-4?
Kekhawatiran itu wajar. Sebab mereka datang bukan pakai doa, tapi dana. Ada tumbal pemain lokal, ada perang di kolom komentar pakai jargon local pride, hingga muncul kehebohan sosial yang mahal ongkosnya. Saling ejek!
Maka yang harus dinaturalisasi berikutnya bukan cuma pemain, tapi juga rasa memiliki. Antara mereka dan kita, penonton yang sudah terlalu sering disuruh “percaya proses”.
Kita enggak mau mereka kemudian ogah-ogahan main karena hajatan besar gagal. Enggak mau mereka pilih-pilih pertandingan. Karena publik kita ini unik. Mereka bisa memaafkan kekalahan dan kegagalan, tapi sulit melupakan kemalasan dan ketidakbecusan.
Lalu mari kita intip Maroko. Negara yang dulu juga cuma mimpi, tapi sekarang berani melawan realitas.
Federasi mereka, Fédération Royale Marocaine de Football (FRMF), punya semacam departemen diaspora. Bukan nama resmi, tapi nyata kerjanya. Mereka enggak cuma urus paspor dan kontrak, tapi juga hati dan emosi. Mereka menyapa, memantau, bahkan menjaga perasaan para pemain keturunan yang merumput di Eropa dan dimanapun.
Mereka bikin program komunikasi publik, bikin narasi kebangsaan. Kisah pemain diaspora Maroko ditayangkan agar publik jatuh cinta, bukan karena mereka jago, tapi karena mereka berjuang untuk darah Maroko dibadanya.
Bahkan mereka memfasilitasi hal-hal yang mungkin dianggap ada-ada aja. Misal, kursus bahasa Arab, kunjungan ke kampung halaman, kegiatan sosial, sampai “hari budaya” bareng keluarga. Karena mereka tahu, identitas itu harus dipupuk, bukan cuma tertulis di paspor.
Indonesia bisa meniru itu. Kalau mau mimpi ke Piala Dunia berikutnya, terjaga dan terjadi seperti Maroko. Atau, jangan-jangan, PSSI sudah menjalankannya dan punya rencana serupa? Ya cerita dong, biar semangat publik tetap membara.
Pemain naturalisasi itu bukan obat kuat yang diminum menjelang pertandingan, lalu dilupakan setelah efeknya habis. Mereka manusia, bukan suplemen. Kalau cuma dijadikan proyek cepat saji, ya siap-siap aja mereka ogah balik ketika dapur Timnas mulai dingin.
Naturalisasi bukan proyek jangka pendek, tapi perjalanan jangka panjang. Sebab yang membuat Maroko sampai semifinal Piala Dunia bukan darah Eropa, tapi semangat Afrika yang mereka rawat dengan sistem dan cinta.
Sudah waktunya kita menghapus mental “percepatan”, dan mulai menulis kata baru “keberlanjutan.”
Masih sibuk mau menaturalisasi? Ingat, setelah naturalisasi ada yang namanya ekspektasi berwujud prestasi.
Tabik.
Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola.