Bonek Mania saat memadati Gelora Bung Tomo. (Foto: Persebaya Official)

Suporter Itu Pendukung, Bukan Perundung

Sportify.id - Jadi suporter sepak bola itu mirip orang jatuh cinta. Siap mendukung dengan sepenuh hati. Tapi banyak yang lama-lama, kok mirip toxic relationship. Klub dicintai, lawan dibenci, pelatih dan pemain di-bully. Cinta yang beracun. Bukankah tugas suporter adalah pendukung, bukan perundung?

Di stadion, suara-suara dari tribun sering diklaim sebagai doa massal. Tapi coba diputar ulang, doa kok kadang isinya makian? Pemain dan pelatih yang mestinya dapat energi tambahan, malah sering kena mental. Itu untuk klubnya, belum pada klub lawan.

Suporter sering merasa dirinya paling benar. “Kami yang paling loyal, kalian cuma ember plastik!” katanya.

Ada kolomnis sepak bola Internasional bilang, kalau fans sudah dibelah berkelas-kelas macam Ultras, Hooligans, Loyal, Casual, Tradisional, sampai Online Fans, solidaritas malah hancur.

Lihat River Plate, itu punya suporter edan. Pemain merumput jelek sedikit, bisa ditampol di bar kalau ketemu pendukungnya yang maniak.

Makanya klub itu kudu kayak parpol. Punya pembinaan kader. Jangan cuma dipiara membiarkan fanatis buta. Setidaknya kasih ajaran, boleh “menyerang” internal, tapi jangan merusak suporter lawan. Serangan internal pun harus pake aturan main. Nggak main pukul, main hujat, bisa mecat.

Sepak bola ini sebetulnya cermin. Kalau suporternya arogan, ya wajah yang muncul adalah sepak bola yang kusut masai.

Rivalitas antar pendukung klub itu wajar. Dukungan all out, sah. Tapi kalau sudah berubah jadi lomba siapa paling gahar, siapa paling macho menghina, siapa paling keras reaksinya, itu namanya bukan keren dan pinter, tapi rese dan keblinger.

Saya tersentak. Melihat video peristiwa “penghakiman” idola muda saya zaman Primavera di PSPS. Spirit football brotherhood di dada serasa  tergores. Kok bisa segitunya? Mbok yah, kalau memang mau jadi “pemain ke-12”, ya jangan keblinger pengen juga jadi “hakim ke-13”.

Saya cuma bisa berdo'a lewat tulisan ini. Semoga Kurniawan dan Ilham jadi makin kuat dan mumpuni sebagai pelatih lokal yang punya nama lewat peristiwa itu.

Jangan merundung. Ingat, gol tercipta bukan dari suara hujatan dan caci-maki, tapi dari kerja sama sebelas orang di lapangan atas arahan pelatih. Bukan dari puluhan ribu di tribun yang bisa menjadi siapa saja.

Emang sih, ada celoteh begini; Pelatih, pemain, wasit, manajemen dan komentator terbaik adalah suporter! Karena kepala mereka banyak. Kalau otaknya yang berisikan pendapat diperas, yang terbaiklah yang muncul. Tapi kan yang maen bola bukan pendapat beralaskan bacot, Maliihh..?!

Gimana...? Nggak semua sih suporter lagaknya begitu. Tapi disini banyak adanya.

Maka, mari kita bersepakat, sepak bola itu pesta. Hiburan, bukan palagan penghakiman. Jadi suporter perlu selalu ingat, kita ini pendukung, bukan perundung!

 

Tabik.

 

Penulis: Yusuf Ibrahim – Penikmat Sepak Bola

    Terbaru

    Terkait