Anak-anak sedang berlatih sepak bola (Foto: PSSI)

Apa dan Bagaimana Pelatih Timnas Indonesia Selanjutnya?

Bagaimana kalau urusan mencari pelatih timnas pengganti Patrick Kluivert jangan dulu dengan pertanyaan “siapa dan dari mana?”. Kita kedepankan dulu “apa dan bagaimana?”.

Apa kriteria yang cocok, dan bagaimana sang pelatih bisa memahami sepak bola Indonesia saat ini?

Masalahnya, mencari pelatih pengganti bukan sekadar memilih nama, tapi memahami arah dan niat yang berkelanjutan. Bisa lolos ke Piala Dunia 2034, dan syukur-syukur bisa nyangkut sempat main juga di Piala Dunia 2030. 

Kemarin, ketika PSSI terburu-buru mencari figur baru mengganti Shin Tae-yong, hasilnya justru banyak yang kecewa. Diharapkan membawa perubahan dan kemajuan, tapi yang datang malah menyodorkan “keanehan”. 

Memang, Patrick Kluivert datang dengan nama besar dan karier Eropa yang gemerlap. Tapi reputasi kebintangannya ternyata tidak menyala di sini. Dalam sembilan bulan, timnas tak menemukan bentuk. Ia memang berhasil memperluas jaringan pemain diaspora Belanda, tapi gagal menanamkan sistem yang terarah. Visi strateginya tidak menjelma menjadi harmoni permainan yang bisa membuat lawan terbius dan terlena. 

Indonesia sebenarnya sudah punya buku panduan bernama Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia). Sebuah konsep yang menekankan permainan cepat, kreatif, dan kolektif, sesuai karakter kita yang hangat, improvisatif, dan berani. Sayangnya, seperti banyak hal hebat di negeri ini, Filanesia lebih sering hidup di forum rapat-diskusi daripada di lapangan. Membuat Filanesia belum teruji di era sepak bola modern. 

Kita punya banyak pemain berbakat, tapi belum punya sistem yang menjaga bakat itu tumbuh bersama. Akibatnya, anak-anak berbakat kita di SSB banyak yang tercecer. Yang main di EPA banyak yang layu sebelum mekar. 

Setiap negara, galibnya, punya karakter dasar sepak bolanya sendiri. Belanda dengan total football-nya yang cair dan sistematis. Italia bermain seperti main catur, ada sabarnya, tapi licik. Jerman rapi dan kejam, menekan sampai menit terakhir anti drama. Brasil menari dengan bola, seolah sepak bola adalah karnaval tanpa akhir. Jepang setia pada rencana seperti menulis kanji, kudu  presisi. Korea bekerja dengan semangat pasukan wajib militer, cepat, tegak, dan kadang terlalu patuh. Timur Tengah kuat dan cepat, tapi gampang panas kalau kalah kartu. Eropa Timur keras dan to the point, seperti gaya mereka bicara. Sementara Amerika Latin, terutama Argentina, bermain dengan hati dan sedikit kenakalan. Mereka bisa menang, kalah, tapi selalu sarat jiwa yang memesona. 

Nah, pertanyaannya sepak bola Indonesia itu yang mana?

Kita sering ingin seperti semua, tapi belum tahu sebenarnya siapa diri kita di antara ragam karakter sepak bola dunia. Kita mau seperti Belanda, tapi belum terbiasa dengan disiplin. Mau seperti Brasil, tapi sering abai latihan dasar passing, dribling dan kontrol itu penting di repetisi sejak dini. 

Sekarang timnas kita campuran dua dunia. Pemain diaspora Belanda yang disiplin dan taktis, serta pemain lokal yang bermain dengan naluri dan emosi. Nah, pelatih baru harus bisa menjembatani dua karakter ini. Menyeimbangkan struktur dan spontanitas, disiplin dan kebebasan. Ia harus tahu kapan memberi ruang untuk kreativitas, dan kapan harus tegak lurus pada garis taktik. 

Shin Tae-yong sudah memberi teladan penting. Mengingatkan perlunya disiplin dan etos kerja. Tapi gaya bertahan dan menyerangnya ternyata "menyerempet" batas kultur naturalisasi dan lokal. Ia membangun fondasi mental, tapi belum sempat menanam sistem yang berakar panjang. Dan kini, pintu untuknya sudah ditutup PSSI. 

Pelatih berikutnya harus lebih dari sekadar “baru”. Ia harus paham bahwa sepak bola Indonesia tak bisa diselesaikan dengan ego Eropa atau romantisme Asia. Kita butuh pelatih yang mampu membaca dua bahasa. Yakni bahasa bola, dan bahasa manusia Indonesia dengan nuansa naturalisasinya. 

Sebelum bertanya siapa yang pantas, mari kita cocokkan dulu apa yang kita mau. Karena kalau arah dan pemahaman masih suka berubah, siapa pun yang datang, mau dari Belanda, Korea, Brasil, atau mana pun, hanya akan berakhir sama. Jadi kambing hitam di negeri yang belum selesai memahami antara kenyataan dan harapan.

Masalah siapa dan darimana? Sabar. Tugas PSSI menjawabnya. Kita berharap, jangan pakai cara "kejutan" yang malah mengundang "keributan".

 

Tabik.

 

Yusuf Ibrahim – Penikmat Sepak Bola.

 

    Terbaru

    Terkait