Timnas Indonesia (Istimewa)

Apa Guna Ganti Koki, Kalau "Kompor" Tak Diperbaiki?

Jepang lagi-lagi bikin dunia terbelalak. Setelah pernah menumbangkan Jerman di Piala Dunia 2022 dan pada friendly match Oktober 2023, kini Brasil pun tumbang di kaki para Samurai Biru dalam laga uji coba, baru-baru ini.

Dunia mungkin terkejut, tapi Jepang tidak. Karena kemenangan itu bukan keberuntungan, itu hasil dari perencanaan panjang, dari sistem yang bekerja diam-diam, dari keringat yang tidak pernah minta panggung.

Sepak bola Jepang tidak lahir dari stadion megah, tapi dari ruang kelas, di akademi dan di laboratorium. Mereka tak punya Neymar, tapi punya filosofi Kaizen, semangat memperbaiki diri setiap hari.

Dari pelatih Belanda mereka belajar struktur, dari Jerman mereka belajar disiplin, dari Brasil mereka belajar mawas diri, dari Spanyol mereka belajar sabar, dan dari kekalahan mereka belajar rendah hati.

Maka jangan heran, Jepang bisa mengalahkan Jerman, lalu Brasil, nanti entah raksasa sepak bola mana lagi yang dia campakan mahkotanya. Prestasi Jepang sejauh ini, seolah menampar siapa pun yang masih percaya sepak bola hanya soal bakat dan takdir keberuntungan.

Sementara itu, di tanah air kita, riuh rendah suara tentang siapa yang salah setelah Timnas gagal menembus Piala Dunia. Pelatih disalahkan, pemain diolok-olok, federasi disindir. Kita sibuk mencari kambing hitam, padahal rumput lapangan pun tahu, kambingnya bukan satu, tapi satu kandang.

Kita sekarang ganti pelatih seperti ganti status di media sosial, cepat, emosional, tanpa refleksi. Padahal, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan “Siapa pelatihnya kemudian?” tapi “Apa sistemnya dan bagaimana meneruskan dan menjalankan tranformasi yang dijanjikan?" Karena sehebat apa pun koki, kalau kompor kita sering ngadat, hasil masakannya tetap jauh dari enak.

Jepang tidak pernah mencari pelatih penyelamat. Mereka membangun sistem penyelamat. Dari sekolah dasar sampai liga profesional, dari metode latihan sampai nutrisi, semua satu arah. Anak-anak mereka tumbuh dalam lingkungan yang mencintai sepak bola sebagai cara berpikir, bukan sekadar cara bermain.

 

Sementara kita masih suka terpesona pada gaya, bukan isi. Pada hasil cepat, bukan proses panjang. Kita bangga kalau Timnas viral, tapi lupa kalau viral tak sama dengan yang namanya vital.

Jepang tak teriak-teriak “Macan Asia”, "Raksasa yang Tidur", mereka bekerja diam-diam sampai dunia yang mengucapkannya untuk mereka.

Kemenangan Jepang atas Brasil kemarin adalah cermin, dan kita sedang berdiri di depannya. Pertanyaan buat kita, apakah kita mau bercermin dengan jujur, atau masih sibuk memoles bayangan?

Karena kalau Jepang bisa mengalahkan Jerman dan Brasil, sementara kita masih kesulitan menaklukkan ego dan sistem kita sendiri, maka jawabannya jelas, bukan pelatih dan pemain yang harus terus berganti, tapi cara berpikir kita tentang sepak bola yang harus ditransformasi.

Dan sebelum kita berteriak “Merdeka di lapangan!”, mungkin baiknya kita belajar dari Jepang, bahwa kemerdekaan sejati datang bukan dari mengganti orang, tapi dari memperbaiki sistem.

Atau, seperti kata pepatah dapur, “Apa guna ganti koki, kalau kompornya tak diperbaiki?”

Jadi, apa dan siapa "kompor" yang harus diperbaiki itu? PSSI kumpulan orang berkompetensi, pasti mereka punya jawaban yang presisi untuk menjawabnya lewat transformasi total yang sedang dijalani.

Lagi-lagi, kita diminta sabar menanti. Tapi, sampai kapan sabar itu harus tanpa prestasi yang hakiki?

 

Tabik.

 

Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola

    Terbaru

    Terkait