Di atas kertas peluang Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 cuma 31 persen. Itu hasil simulasi para analis sepak bola asal Spanyol, Denis Dervishi dan Juraj Sulimanovic lewat Football Meets Data.
Sementara Arab Saudi 62 persen, Irak 47 persen. Tapi, angka-angka itu cuma statistik. Bukan keringat, apalagi do'a fans yang jumlahnya 200 juta lebih.
Patrick Kluivert mungkin tahu dirinya sedang menunggang kuda yang belum jadi kuda perang. Tapi justru di situlah serunya, bagaimana pelatih Belanda ini mengajari pasukan muda dengan ego berlari bukan demi sorak-sorai, tapi demi makna.
Di tangannya, bisa jadi Kevin Dick Bakarbessy bukan cuma bek, tapi benteng tebal layaknya benteng Belanda yang banyak tersebar di Maluku Tengah. Jay Noah Idzes bukan cuma pemain naturalisasi, tapi jembatan antara disiplin Eropa dan semangat Asia. Lalu Marselino Ferdinan dan Yance Sayuri dijadikan pengingat bahwa masa depan tetap ada pada "anak kampung sini".
Statistik boleh meremehkan, tapi bola tidak pernah menghina. Ia hanya menunggu siapa yang paling siap menghormatinya di lapangan. Dan Kluivert sedang menyiapkan tim yang tahu cara menghormati bola, bukan cuma menendangnya.
Indonesia mungkin underdog, tapi bukan sembarang underdog. Kita mungkin bangsa yang terbiasa berangkat dari nol, bahkan sering dari minus. Kita sudah terlalu akrab dengan kata “berat,” sampai akhirnya tahu, berat itu bukan alasan tapi proses.
Jadi biarlah dunia bilang peluang kita kecil. Justru di situ ruang terbesar untuk keajaiban bekerja. Karena 31 persen sisanya adalah milik mereka yang percaya, bahwa keajaiban paling rasional untuk Indonesia bukan datang dari statistik, tapi dari cara kita menyikapi pertempuran ketika peluang menipis.
Tanpa berpanjang kata. Ingat, kita ini Indonesia, tempat dimana keajaiban dan keberuntungan selalu punya alasan baru untuk hadir kapanpun.
Semangat!!!
Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola