Sportify.id - Cristiano Ronaldo dijatuhi denda sebesar 255 euro atau sekitar Rp5,1 juta oleh Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) setelah meninggalkan pemusatan latihan tim nasional. Besaran hukuman tersebut menjadi perhatian publik karena nilainya terlihat sangat kecil dibandingkan pendapatan sang megabintang bersama Al Nassr.
Menurut laporan detikSport tak hanya sanksi berupa uang, FPF juga menjatuhkan sanksi berupa larangan bermain selama 30 hari. Keputusan tersebut diambil setelah Ronaldo sebelumnya meninggalkan kamp Portugal pada akhir September 2026 beberapa waktu lalu.
Selain denda 255 euro, Ronaldo menerima larangan bermain selama 30 hari. Sanksi ini menjelaskan bahwa peraturan terkait menyediakan rentang hukuman lebih berat, termasuk larangan bermain hingga enam bulan dan denda yang lebih besar.
Akibat drama meninggalkan kamp latihan Timnas Portugal itu Ronaldo juga memiliki persoalan lain. Persoalan lainnya melibatkan hubungan sang mega bintang Ronaldo dengan pelatih Jorge Jesus yang disebut menjadi latar belakang ketidakpuasan sang pemain.
Skorsing untuk Ronaldo terhitung sejak 30 September lalu. Dengan demikian, Ronaldo berpeluang kembali tersedia ketika Portugal menjalani agenda internasional pada November, selama tidak ada keputusan lain yang mengubah status tersebut.
Jumlah denda yang relatif kecil membuat hukuman terhadap Ronaldo itu menuai sorotan karena dianggap tak sebanding dengan statusnya sebagai salah satu pemain termahal dunia. Namun begitu, FPF memberikan besaran hukuman tidak ditentukan langsung berdasarkan gaji ataupun kekayaan pemain.
Ketentuan denda standar membuat pelanggaran tertentu memiliki nilai finansial yang sudah ditetapkan. Pendekatan tersebut berbeda dari sistem denda berbasis pendapatan yang diterapkan di sejumlah yurisdiksi atau kompetisi lain.
Kasus ini menunjukkan bahwa hukuman administratif tidak selalu dirancang agar terasa besar bagi setiap individu. Tujuannya adalah memberikan konsekuensi sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, perbandingan dengan pendapatan Ronaldo tetap memunculkan diskusi mengenai apakah sistem denda tetap efektif bagi pemain berpenghasilan sangat tinggi.
Terlepas dari nilai uangnya, larangan bermain berpotensi memiliki dampak profesional lebih besar karena membatasi ketersediaan pemain untuk tim nasional.