Hasnuryadi (Foto: Istimewa)

Hasnuryadi, Dari Serambi Masjid ke Stadion dan Gedung Pemerintahan

Sportify.id - Di Kalimantan Selatan, nama H. Hasnuryadi Sulaiman bukan hanya dikenal di ruang politik, tapi juga di stadion sepak bola dan serambi masjid. Jejaknya adalah cerita tentang anak Banua yang sangat menghayati kearifan lokal masyarakat Banjar yang agamis serta konsistensinya pada keyakinan bahwa hidup hanya akan bermakna bila memberi manfaat bagi orang lain.

Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kalsel dan kini Wakil Gubernur, Hasnuryadi senantiasa mengingatkan para kader tentang kebermanfaatan diri itu, yang salah satunya melalui kedekatan dengan rakyat.

“Salah satu kewajiban kader adalah selalu hadir bersama rakyat, dekat dengan rakyat, dan peduli kepada rakyat,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Di balik jargon “Wasaka” (Waja Sampai Kaputing), sebuah filosofis khas urang Banjar yang ia gaungkan, tersimpan pesan keteguhan hati. Bahwa, politik harus dijalani dengan konsistensi dan kejujuran sampai akhir, bukan sekadar pembagian kekuasaan, perebutan kursi, tapi juga haram manyarah!

Hasnuryadi juga dikenal luas sebagai CEO Barito Putera, klub kebanggaan Banua. Dia juga  anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Baginya, sepak bola adalah madrasah kehidupan. Saat timnya berada di ambang degradasi, ia menegaskan,

“Bukan cuma bilang ‘amin’, tapi harus fight, harus berjuang! Kalau cuma doa tanpa usaha, itu percuma.”

Filosofi substantif itu kemudian ia bawa kemanapun kakinya menjejak stadion. Ia menghadirkan energi baru sekaligus menjaga semangat kebersamaan, dan semangat pantang menyerah untuk tim yang ia rawat. Stadion baginya bukan hanya tempat bola bergulir, tapi ruang pembelajaran tentang perjuangan, kebersamaan, pengorbanan, dan pembelajaran bagaimana hidup harus dijalani dan diperjuangkan sampai batas akhir nanti.

Di sela politik dan olahraga, Hasnuryadi kerap kembali ke masjid. Bersujud. Berserah diri karena sadar manusia sangat-sangatlah lemah. Berkumpul dengan ulama. Di situlah ia menemukan akar spiritual yang menguatkan langkahnya.

Para ulama bagi Hasnuryadi adalah benteng spiritual dirinya. Masjid bukan hanya ruang ibadah, melainkan pusat perubahan dan peradaban. Dari sana ia menimba prinsip hidup yang sederhana sekaligus mendalam. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Nawaitunya mengutip sebuah hadist Rosullullah Muhammad SAW.

Prinsip itu menjadi kompas yang membimbingnya. Dari ruang spiritual, ia melangkah ke stadion, lalu kini ke gedung pemerintahan, dengan satu benang merah bernama pengabdian.

Sebagai Wakil Gubernur, Hasnuryadi terlibat dalam urusan teknis pembangunan. Namun ia berusaha memberi nafas idealisme di balik bahasa birokrasi.

“Fokus kita adalah pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Mudah-mudahan kita bisa betul-betul mengabdi untuk masyarakat Banua Kalsel tercinta,” ucapnya dalam sebuah sidang paripurna DPRD.

Di ruang penuh angka itu, ia ingin memastikan bahwa kebijakan bukan sekadar tabel, melainkan janji moral pada rakyat.

Hidup Hasnuryadi ibarat lingkaran yang kembali ke titik awal. Dari serambi masjid, ia belajar iman. Dari masyarakat, ia menyelami kearifan lokal Banjar yang religius. Dari stadion, ia belajar perjuangan. Dari gedung pemerintahan, ia belajar amanah. Semua ruang itu, meski berbeda wajah, menuju satu arah, pengabdian yang harus bermanfaat bagi orang lain.

Ia sadar dirinya bukan tokoh tanpa cela, melainkan manusia biasa yang berusaha menjalani setiap pesan baik orangtuanya. Dan di situlah makna Wasaka menemukan bentuknya, teguh sampai akhir dalam pengabdian untuk Banua khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

 

Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola - Dari berbagai sumber.

    Terbaru

    Terkait