Timnas Indonesia diputaran 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 (Foto: PSSI)

Indonesia Kembali “Disepak” Piala Dunia

Pupus sudah mimpi itu. Mimpi tampil di Piala Dunia. Timnas kita dilumpuhkan Irak, setelah sebelumnya ditampar manja oleh Arab Saudi. Tak ada round-5. Cukup sampai round-4. Katanya sih, ini kegagalan yang “terprediksi”.

Bahasa halus dari, "ya emang segitu levelnya. Itu juga udah, lumayan!"

Awalnya tampak indah. Kita punya skuad “berdarah Belanda”, squad yang katanya punya DNA Eropa. Federasi pun  menggelorakan dengan kata-kata “era baru sepak bola Indonesia.”

Kita kira, kita sudah menemukan resep rahasia menembus Asia terus ke dunia. Tapi nyatanya baru sebatas menyusun bahan baku, belum bisa memasaknya.

Yang tersaji akhirnya cuma ilusi berkalang ekspektasi.

Tapi lumayan, cukuplah untuk bikin timeline sosial media panas, walau belum cukup untuk bikin sejarah yang mengganas.

“Mimpi yang tak disertai kerja keras hanyalah ilusi yang menua,” kata Johan Cruyff.

Dan sayangnya, di negeri ini, ilusi sering dimanipulasi jadi ekspektasi nasional.

Sekelas Belanda, negeri tempat sebagian pemain kita lahir, pun pernah gagal delapan kali ke Piala Dunia. Tapi mereka jujur. Media mereka ada yang menulis getir, “Kami terlalu sibuk menjaga mitos Total Football, hingga lupa menciptakan yang baru."

Sementara kita? Setiap kali gagal, kita malah rajin bikin mitos pembenaran baru. “Masih proses", “Masih adaptasi", "Masih bisa berkembang.”, "Masih ada hari esok."

Kata masih itu ajaib.

Ia bisa jadi doa, tapi juga bisa jadi candu nasional.

Bukan karena kita sabar, tapi karena kita alergi kenyataan.

 

Patrick Kluivert mungkin gagal. Erick Thohir juga belum berhasil.

Tapi menyalahkan mereka sama saja seperti menyalahkan cermin. Sebab yang tampak di sana, ya kita sendiri. Bangsa yang tanpa sadar suka menyambut logika eropa yang elitis dengan mentalitas instan.

Kita ingin hasil cepat, viral sekarang dan urusan evaluasi belakangan. Pokoknya pakai  akselerasi! Terdengar arahnya jelas, tapi ada yang lupa, jalan yang dilalui masih berlubang. Padahal sepak bola, seperti hidup, bukan tentang siapa yang lebih cepat cetak gol, tapi siapa yang lebih lama menjaga ritme dan arah permainan sehingga sering unggul dalam banyak duel.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang selalu menang, tapi bangsa yang tahu mengapa ia kalah.” Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat di lidah kita yang kebanyakan suka beretorika. Kita lebih senang mencari siapa yang salah, bukan apa yang salah. Bahkan kalau bisa, salahnya dipotong jadi video pendek dan diunggah ke TikTok.

Jepang dan Korea tak menunggu mukjizat. Mereka menanam sistem dari usia dini, membangun kompetisi yang sehat, dan menyiramnya dengan kedisiplinan yang tak bisa dinegosiasi.

Kita? Baru bikin akademi, sudah sibuk bikin konten “Next Messi Lahir Disini!"

Baiklah. Kegagalan itu bukan aib. Yang memalukan adalah berkali-kali gagal tanpa mau bermawas diri. Kita memang sudah ada berubahnya, tapi baru sebatas wajah.

Dari wajah pemain lokal ke naturalisasi, dari janji ke jargon.

Sementara bodi pembinaan dan kompetisinya masih sama. Senin-Kamis. Senin bagus, Kamis kagak. Week-end? Suka-suka.

Belanda jatuh, tapi setiap kejatuhan melahirkan pembaruan. Kita jatuh, tapi suka sibuk mencari siapa yang mendorong.

Sudahlah, Indonesia bisa bangkit asal berani jujur. Agak normatif. Tapi masalahnya bukan di kaki pemain. Masalahnya di kepala yang terlalu banyak bicara akselerasi, tanpa tahu bagaimana meraih  prestasi.

Paling tidak, mari jadikan rasa sakit karena kembali “disepak” oleh Piala Dunia ini sebagai tenaga untuk menyepak balik benalu-benalu yang menghambat kemajuan sepak bola nasional.

Terima kasih, Timnas! 

Tabik.

 

Penulis: Yusuf Ibrahim – Penikmat Sepak Bola

 

    Terbaru

    Terkait