Sportify.id - Kekalahan Timnas U-17 Indonesia dari Zambia, 1–3, di Piala Dunia FIFA U-17 Qatar (4/11) menarik direnungi. Hasil itu jadi cermin kecil tentang bagaimana semangat bisa berubah jadi tekanan. Dan perlunya bermain lebih gembira.
Setelah unggul lebih awal lewat gol Zahaby Gholy pada menit ke-12, permainan Timnas justru terasa tegang. Tempo menurun, komunikasi di belakang goyah, hingga dalam enam menit, tiga gol bersarang. Dua di antaranya bahkan hanya terjadi dalam dua menit. Semuanya terjadi pada babak pertama.
Sebenarnya, bukan karena Zambia yang begitu kuat, tapi karena anak-anak Indonesia tampak menanggung beban yang mereka ciptakan sendiri. Yakni keinginan untuk menang yang berubah jadi rasa takut kalah. Padahal tak perlu seperti itu.
Inilah risiko jika permainan terlalu berorientasi pada hasil. Spontanitas hilang, passing menjadi kaku, dan keputusan-keputusan kecil kehilangan intuisi.
Pada babak kedua, timnas berusaha menyadarinya. Tapi momentumnya sudah lenyap. Gempuran serangan menjadi sia-sia. Sebab anak-anak Zambia keburu membuat barisan pertahanannya makin menguat. Unggul dua gol bagi mereka lebih dari cukup.
Padahal, di usia muda, sepak bola seharusnya diwarnai oleh kegembiraan, selain nyali dan keberanian. Karena dari sanalah lahir energi paling murni dalam permainan muncul. Dari rasa suka cita, bukan dari ketegangan. Tim kepelatihan, pembinaan federasi dan para orang tua mesti mengingatkan mereka.
Zambia bermain dengan mentalitas yang lebih rileks. Mereka tertinggal, tapi tetap fokus dan berani menekan. Sementara Garuda Muda, setelah unggul, justru terburu-buru ingin memastikan kemenangan, seolah-olah skor 1–0 jadi beban takut kalah dan yakin bisa menang.
Ronaldinho pernah bilang, “Football is about joy.” Sepak bola adalah tentang kegembiraan. Lihat saja wajahnya (bukan aktor sinetron) tapi selalu menyenangkan dilihat saat menggiring bola. Ia bahkan suka "nyengir" mentertawai dirinya ketika gagal.
Mungkin itu yang perlu disetrum pada Timnas U-17. Bermainlah seperti Ronaldinho. Ringan, bebas, dan gembira. Bukan maksudnya menyuruh jadi mega bintang sehebat dia, karena itu seribu satu. Tapi paling tidak meniru suasana hatinya ketika ada dilapangan dan bertanding.
Banyak pelatih sukses sepak bola dunia juga mengingatkan, bahwa dalam sepak bola, kemenangan lebih sering berpihak pada mereka yang rilek, bahkan di tengah tekanan.
Dan kita, para penonton, jangan menambah beban di pundak mereka. "Beban ekpsektasi yang tinggi", seperti kata Coach Nova Arianto yang menukangi Timnas U-17.
Mari terus kita kasih mereka apreasiasi. Bukan ekspektasi yang "ngadi-ngadi". Prestasi biasanya datang pada mereka yang pandai menjaga ego dan mengotrol emosi sejak muda.
Selamat terus menjadi yang terbaik Timnas U17-ku.
Tabik.
Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola.