Tadi malam di GBK. Skor akhir memang hanya 0–1. Bulgaria menang. Indonesia kalah. Selesai.
Tapi kalau hanya berhenti di situ, kita sedang membaca pertandingan dengan cara paling malas.
Sebab, selalu ada hal yang tidak tertulis di papan skor, yakni cara lawan memandang kita. Sebelum atau sesudah pertandingan.
Media Bulgaria, Sportal.bg dan Marica News, misalnya, sejak awal tidak menulis dengan nada merendahkan timnas kita. Mereka tidak melihat Indonesia sebagai pelengkap turnamen. Justru sebaliknya, mereka menulis dengan nada hati-hati.
Menyebut Indonesia punya pemain dari liga Eropa. Menyoroti GBK sebagai stadion besar dengan atmosfer menekan. Bahkan, ada rasa waspada yang terasa di antara baris-baris kalimat ulasan mereka. Lengah, bisa kalah, begitu kesannya.
Ini menarik. Karena biasanya, rasa takut tidak pernah ditulis. Ia biasa disembunyikan sang superior. Tapi kali ini muncul. Walau dalam bentuk yang halus.
Ini pertanda baik buat Timnas Indonesia yang mulai tidak lagi dilihat sebagai “lawan yang pasti bisa dilewati”. Khususnya oleh anak-anak Eropa selevel Bulgaria.
Ketika pertandingan berjalan, narasi itu nyatanya tidak runtuh. Ia justru terkonfirmasi. Prasangka media Sportal.bg dan Marica benar adanya.
Bulgaria memang mencetak gol. Dari penalti. Menit 38. Satu momen pelanggaran. Satu keputusan yang dibantu oleh VAR.
Tapi setelah itu? Indonesia mengambil alih permainan. Bukan sekadar menyerang, tapi memaksa Bulgaria bertahan.
Bukan sekadar menekan, tapi membuat mereka tidak nyaman. Indonesia tak ingin kalah. Minimal seri. Di TV, karena penulis melihat lewat TV sambil ngopi, terlihat begitu.
Ada dua momen bola kena tiang. Ada tekanan di akhir laga. Ada rasa bahwa pertandingan ini bisa saja berbalik arah, kalau saja sedikit lebih presisi.
Dan di titik ini, kita perlu jujur pada timnas kita. Ini bukan lagi Indonesia yang “berusaha melawan”. Ini sudah Indonesia yang membuat lawan harus bertahan.
Adanya pelatih baru pun, seolah tak percuma. Warna barunya ada. John Herdman memang tidak datang membawa sentuhan yang berisik. Tidak ada perubahan yang terlalu teatrikal. Tapi ada sesuatu yang lebih penting, yaitu cara bermain yang lebih terarah.
Lawan Bulgaria, Timnas terlihat tahu kapan harus menekan. Tahu kapan harus mengalirkan bola. Dan yang paling penting, sadar bahwa mereka tidak inferior.
Itu bukan hal kecil. Karena selama timnas didominasi pemain naturalisasi, problem terbesar kita bukan lagi teknik.
Bukan juga fisik. Tapi mental. Merasa kecil sebelum bertanding. Dan gugup jika tertinggal.
Di bawah Herdman, ada pergeseran halus. Indonesia bermain tidak lagi untuk “tidak kalah”. Indonesia mulai bermain untuk mengontrol pertandingan. Dan itu tersajikan saat tertinggal satu gol.
Bulgaria tidak tampil buruk. Mereka pragmatis. Efisien. Mereka tahu bagaimana menjaga keunggulan. Tapi justru di situlah letak kisahnya. Bulgaria susah memperbesar kemenangan. Mereka justru mencoba bertahan dari tekanan.
Sebuah tim yang percaya diri, biasanya ingin mengunci pertandingan. Sebuah tim yang ragu, biasanya hanya ingin bertahan sampai akhir. Dan Bulgaria, tadi malam, terlihat seperti yang kedua.
Tidak ada pesta. Tidak ada dominasi. Yang ada hanya skor dan sedikit kelegaan. Timnas masih punya harapan dengan pelatih barunya.
Sepak bola memang tidak memberikan poin untuk “hampir menang”. Tidak ada klasemen untuk “tim paling dominan tanpa gol”.
Tapi sepak bola selalu meninggalkan kesan. Dan kesan dari laga itu terang. Indonesia bukan lagi cerita tentang melulu tersingkir dan kalah. Indonesia mulai menjadi cerita tentang ancaman kemenangan.
Kita mungkin belum efisien. Penyelesaian akhir masih jadi pekerjaan rumah. Detail kecil seperti penalti masih bisa menghukum kita. Tapi, sekali lagi, arah permainan sudah berubah.
Dan dalam sepak bola, arah itu segalanya. Karena tim besar tidak lahir dari kemenangan besar. Mereka lahir dari fase di mana lawan mulai merasa tidak nyaman bahkan saat mereka menang.
Dagingnya, tadi malam, Bulgaria memang menang. Tapi mereka tidak terlihat tenang. Itu sangat menghibur.
Indonesia yang kalah, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tidak terlihat kecil. Rasa dihormati sebelum dan sesudah pertandingam oleh lawan, adalah sebuah kemewahan. Apalagi buat match internasional yang digagas FIFA.
Selamat terus berjuang, Timnasku. Sebagaimana kemenangan, kekalahan pun ada yang bisa dimaklumi.
Penulis: Yusuf Ibarhim - Penikmat Sepak Bola