Aremania saat menyaksikan tim kebanggaanya di Stadion Kanjuruhan. (Foto: Arema Official)

Kisah Sepak Bola yang Tak Sanggup Lagi Jadi Kegembiraan

Aremania, kelompok suporter yang dulu dikenal paling fanatik dan memikat, kini lebih banyak memilih diam.

Mereka tak lagi berbondong datang ke stadion. Bukan karena kehilangan cinta pada tim kebanggaannya, melainkan karena masih tak tega bergembira di tempat yang pernah merenggut nyawa saudara-saudara mereka.

Semua bermula dari Tragedi Kanjuruhan. Tiga tahun lalu, tapi masih terasa seperti kemarin sore.

Kanjuruhan adalah simbol luka kolektif, yang kini seolah perlahan terhapus oleh ingatan pendek bangsa ini.

Kehidupan sepak bola memang harus tetap berjalan. Sebagian dari kita sudah kembali tertawa di tribun stadion klub masing-masing. Sorak-sorai dan nyanyian menggema lagi, seolah lupa kita punya tragedi Kanjuruhan.

Namun, sudah genap tiga tahun, Aremania belum sanggup. Mereka masih menunduk, masih diam, masih trauma. Air mata anak-anak Aremania masih suka menetes setiap kali nama Kanjuruhan disebut.

Bagi mereka, stadion bukan lagi tempat bergembira, melainkan ruang sunyi tempat suara peluit terdengar seperti ratapan. Dan di tengah kesunyian itu, perasaan bersalah dan kehilangan tak juga reda.

“Yang lebih memprihatinkan,” kata Achsanul Qosasih, Presiden Madura United,

“rasa takut kita terhadap tragedi serupa ternyata tidak melahirkan kesungguhan, melainkan kepura-puraan.

Kita takut kasus Kanjuruhan terulang, tapi juga takut memberi sanksi berat.

Maka yang dilakukan adalah menghindari masalah, bukan menyelesaikannya.”

 

Kata-kata itu menampar kesadaran kita bersama.

Larangan hadir bagi suporter masih bisa diakali.

Ada yang tetap datang, dan akhirnya hanya dihukum dengan denda uang dengan nilai yang tak menimbulkan efek jera.

Akhirnya, klub yang menjerit, pelaku tak belajar, dan sistem terus melaju seperti biasa.

Pelajaran dari Kanjuruhan perlahan menguap.

Dalam dunia yang lebih jujur, pelanggaran semestinya menimbulkan rasa malu.

Namun di sini, pelanggaran justru menjadi komoditas administratif.

Ada yang kena, ada yang lolos.

Ada yang dihukum demi contoh, ada yang dibiarkan karena “situasi”. Jika begini terus, keadilan akan selamanya berhenti sebagai wacana, bukan kebijakan.

Kita tentu tak bisa sepenuhnya menyalahkan Komdis dan PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Tugas Komdis memang menghukum. Meski tak selalu jelas ke mana arah hukuman itu membawa sepak bola kita.

Begitu pun PT Liga, yang kadang hanya sekadar menjalankan keputusan, seperti operator teknis tanpa daya menjaga moral kompetisi.

Namun, publik menyorot, yang seharusnya menjadi penentu arah adalah Exco PSSI. Para pemegang kemudi kebijakan.

“Suara mereka entah di mana, dan ke mana,” ujar Achsanul lirih, ketika menyinggung pamor Exco saat ini disebuah group WA sepak bola.

Di tengah bisingnya tepuk tangan, euforia transformasi, dan hiruk-pikuk Timnas di media sosial, Exco memang tampak seperti penonton yang tak sadar bahwa pertandingan sudah dimulai.

Apakah mereka juga takut bicara soal luka yang belum sembuh? Ataukah mereka sudah terbiasa mengubur masalah di bawah rumput lapangan kompetisi?

Publik rindu suara cerdas mereka. Para “orang pilihan sepak bola nasional” yang kini lebih banyak diam di tribun kehormatan. Kecuali satu-dua yang masih vokal, itu pun lebih banyak fokus pada Timnas.

Siapa dia? Googling saja.

 

Aremania kini memilih jalan sunyi. Mari kita pahami.

Mereka lebih banyak mencari hiburan di tempat lain: di Proliga, di Liga Futsal Indonesia, di konser jalanan Kayutangan Heritage.

Itulah bentuk kegembiraan mereka yang baru, yang jauh dari tribun kebanggaan mereka.

“Ketika Arema melawan Borneo hanya dihadiri 805 penonton,

dan melawan Persib hanya sekitar 5.500 orang. Itu pun mayoritas Bobotoh,” ujar Eddy Syah, pengamat sepak bola dari Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN), saat menonton Arema berlaga.

Tak bisa disalahkan. Itu hak mereka. Karena tak ada yang bisa memaksa seseorang bersorak di tempat di mana hatinya masih menangis.

Ribuan kursi kosong itu bukan tanda sepinya dukungan,

melainkan tanda berduka yang tak kunjung selesai.

Dan selayaknya orang berduka, mereka tidak butuh disuruh “move on”. Mereka masih butuh didengarkan dan didampingi.

Kanjuruhan seharusnya menjadi monumen kesadaran, bukan sekadar nama tragedi yang perlahan pudar ditelan euforia liga baru dan kegirangan Timnas sekarang mewah.

Ia adalah pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal menang-kalah, melainkan tentang hidup, kehilangan, dan kemanusiaan.

Sepak bola, sejatinya, adalah kegembiraan yang tidak seharusnya dibayar dengan kematian.

 

Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola

    Terbaru

    Terkait