Dari Paes kita belajar menjaga, dari VAR kita belajar berkaca.
Tulisan ini bukan tentang skor dan taktik, tapi tentang rasa. Karena di balik kekalahan Timnas, 2-3 dari Arab Saudi, ada sesuatu yang tak bisa dihitung statistik. Keyakinan bahwa kita tidak sesial yang ditakutkan dan diributkan.
Maarten Vincent Paes berdiri di bawah mistar bukan sekadar sebagai kiper tampan yang punya masa depan. Ia terbang, melenting, terjengkang, menahan, menutup dan berkorban untuk sebuah martabat.
Memang tak semua bola bisa ditangkap, tapi semangatnya membuat kita percaya bahwa masih ada dinding terakhir yang bernama keyakinan. Dalam setiap tepisannya, ia seperti meniupkan pesan. “Dalam darahku ada Indonesia, darah bangsa yang terbiasa memberikan yang terbaik.”
Lalu datanglah VAR, alat yang kadang sering dikutuk. Tapi malam itu, VAR memberi pelajaran mahal tentang kejujuran dan objektivitas. Ia tak berpihak, tak punya rasa, tapi justru di situlah nilainya. VAR mengingatkan bahwa dalam hidup, tidak semua keputusan harus ditentukan oleh emosi. Kadang kita perlu berkaca pada sesuatu yang lebih jernih dari amarah dan euforia. Layar monitor.
Sepak bola memang permainan kaki, tapi kekalahannya selalu mengetuk hati. Dari Paes dan VAR kita belajar dua hal penting. Menjaga dan mengakui. Menjaga semangat, mengakui kekurangan. Kekurangan ketika ada orang mengkritisi, mengapa semua gol dari kotak penalti? Mengapa lapangan tengah seperti tak berpenghuni?
Sudahlah. Patrick Kluivert punya jawaban atas semua pertanyaan atas kesalahan dan kekalahannya. Saat ini, mari kita ucapkan terima kasih saja dulu. Kepada Paes, karena sudah menjaga gawang dan harga diri dari kekalahan yang memalukan. Kepada VAR, karena sudah menghadirkan teknologi layar sebagai cermin keadilan.
Dan, tak lupa, terima kasih juga kepada sang algojo, Kevin Diks Bakarbessy serta semua squad Timnas. Sebab walau kalah, kalian membuat kami tetap perlu mencintai Garuda. Tanpa syarat, tanpa hitung-hitungan skor. Perkara bisa lolos, biarlah keajaiban yang bertarung dengan takdir.
Setiap kekalahan bisa dibalas, setiap kesalahan bisa diperbaiki. Mungkin kita masih jauh bisa menggelar pesta hajatan kemenangan…! Tapi kekalahan ini bukan alasan untuk kita seketika menggelar pesta "hujatan" atas kekalahan.
Tabik.
Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola