Setiap perubahan besar selalu disambut dua hal. Harapan dan sinisme. Begitu pula ketika TVRI menjadi pemegang hak siar Piala Dunia 2026. Sesaat lagi!
Ada yang antusias.
Ada pula yang langsung mencibir. Bahkan sebelum satu pun siaran dimulai.
Ada kritik yang terbaca tergesa-gesa. Dan sering kali, meleset faktanya. Menyebut uang muka pembelian hak siar terlalu kecil, seolah itu tanda kelemahan. TVRI dirasa memaksakan diri.
Padahal mekanisme hak siar internasional tidak sesederhana angka yang dilempar ke ruang publik. Struktur pembayaran bertahap, jaminan negara, dan skema distribusi lisensi adalah praktik lazim di industri penyiaran global.
Lagi pula, dalam konteks televisi publik, dukungan negara bukan aib. Itu mandat.
Ada pula yang keliru membandingkan dengan biaya hak siar Piala Dunia sebelumnya. Fakta yang sering terlewat, hak siar 4 Piala Dunia sebelumnya berada di tangan grup besar, dengan nilai yang bukan puluhan miliar, melainkan sudah ratusan miliar. Tidak hitungan jari tangan.
Hak siar Piala Dunia memang mahal. Semahal mimpi sebuah bangsa yang ingin hadir di panggung itu. Saat ini, kabarnua yang swasta tidak berani membeli. Sebab, hampir tidak pernah menjadi bisnis yang untung secara langsung. Industri TV sedang melintir.
Di banyak negara, siaran Piala Dunia lebih sering dipandang sebagai investasi reputasi, penguatan brand, dan peningkatan nilai lembaga penyiaran. Bukan sekadar hitungan iklan satu bulan.
BBC di Inggris, NHK di Jepang, dan ARD–ZDF di Jerman, misalnya, berulang kali menyiarkan Piala Dunia bukan karena margin laba yang besar. Mereka ambil karena tanggung jawab layanan publik dan penguatan kepercayaan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintahan Prabowo dapat poin. Memberikan hiburan mewah pada rakyat secara gratis!
Bicara pendekatan kreatif. Di Jepang, NHK bahkan pernah membuat pendekatan yang sangat inovatif. Siaran Piala Dunia dikemas dengan analisis berbasis data visual yang sangat detail, animasi taktik yang mudah dipahami anak-anak. Hingga jadi program edukasi sepak bola untuk sekolah-sekolah. Piala Dunia dijadikan ruang belajar, bukan sekadar tontonan.
Di Inggris, BBC mengembangkan pengalaman digital yang memungkinkan penonton memilih sudut kamera alternatif dan statistik real-time di aplikasi. Mereka paham, penonton modern tidak hanya ingin menonton, tetapi ingin ikut mengalami.
Di Brasil, TV Globo menjadikan Piala Dunia sebagai peristiwa budaya. Program pra-pertandingan diisi liputan kisah kampung halaman pemain, musik, kuliner, bahkan sejarah sosial kota tuan rumah. Sepak bola dihubungkan dengan identitas bangsa.
Artinya, yang dijual bukan hanya pertandingan.
Yang dijual adalah pengalaman. Beberapa TV swasta pernah mencotohnya. Lalu apakah TVRI di 2026 ini mau meneruskan dan memperkaya kreatifnya? Kita tunggu! Kritik lain menyasar jam tayang. Katanya pertandingan dini hari tidak berdampak ekonomi.
Padahal Piala Dunia 2026 berlangsung di zona waktu Amerika Utara yang justru membuat banyak pertandingan jatuh pada rentang malam hingga siang hari di Indonesia jam yang hidup, jam yang bernilai ekonomis.
Lalu soal infrastruktur.
Ini kritik yang paling sering diulang, tetapi paling jarang diperiksa. Alat TVRI jadul!
Faktanya, jaringan pemancar digital TVRI adalah salah satu yang terluas di Indonesia. Di sejumlah wilayah, televisi swasta justru menyewa infrastruktur pemancar TVRI untuk menjangkau siaran mereka.
Jika kualitasnya benar-benar tertinggal, tentu TVRI tidak akan dipercaya menyiarkan acara kenegaraan yang menuntut standar produksi tinggi. Kutip penulis dari pesan WA, yang katanya bersumber dari Dirut TVRI saat ini.
Soal kapasitas 104 pertandingan? Distribusi multi-kanal digital, OTT, dan kerja sama lisensi membuat keterbatasan kanal konvensional bukan lagi persoalan mendasar. Bahkan kabarnya, ada televisi swasta yang justru berharap mendapat bagian siaran. Itu tanda bahwa masalahnya bukan pada kapasitas, tetapi pada persepsi.
Dan di sinilah pertanyaan pentingnya. Bukan, “Bisakah TVRI menyiarkan Piala Dunia?”
Tetapi, “Bisakah TVRI menyiarkan Piala Dunia dengan cara yang berbeda?”
Di situlah ujian sesungguhnya.
Penonton hari ini tidak hanya menonton pertandingan.
Mereka menonton pengalaman.
Mereka ingin host yang memahami permainan, bukan sekadar membaca cue card.
Mereka ingin komentator yang menjelaskan ruang, tekanan, dan pola taktik. Bukan hanya menyebut nama pemain.
Mereka ingin storytelling.
Data visual. Polling real-time.
Interaksi digital. Dan potongan konten yang bergerak cepat di media sosial.
Televisi tidak lagi hidup hanya di ruang keluarga. Ia hidup di layar ponsel. Di timeline. Di klip satu menit yang beredar lebih cepat daripada peluit kick-off.
Karena itu, kunci TVRI bukan hanya teknologi. Tetapi kelenturan. Kemampuan membaca zaman. Keberanian meninggalkan cara lama tanpa kehilangan jati diri.
Televisi publik tidak harus paling glamor. Biarlah itu menjadi wilayah televisi komersial.
Televisi publik semacam TVRI harus menjadi yang paling elegan. Paling cerdas dan paling relevan. Itu cukup.
Piala Dunia 2026 adalah kesempatan langka.
Kesempatan pembuktian TVRI.
Bahwa TVRI bukan sekadar penyiar lama yang bertahan, tetapi institusi yang mampu beradaptasi. Bahwa rumah pertama sepak bola nasional dan internasional di layar kaca Indonesia masih berdiri, dan masih ada.
Jika inovasi benar-benar terjadi. Jika program pra-pertandingan hidup, analisis tajam, interaksi digital berjalan, dan kreator-kreator baru diberi ruang. Maka pertanyaan dan keraguan publik akan berubah.
Bukan lagi, “Apakah TVRI mampu?”
Melainkan, “Kenapa baru sekarang, TVRI?”
Tabik.
Selamat berkarya.
Penulis: Yusuf Ibrahim (Penikmat Sepak Bola dan Mantan Orang TV)