Press Conference PSSI (Foto: PSSI)

PSSI Resmi Tutup Pintu untuk Shin Tae-yong

Sportify.id (24/10) - Sore tadi, lewat sebuah jumpa pers, PSSI akhirnya menegaskan sesuatu yang mungkin pahit bagi sebagian orang, "Pintu untuk Shin Tae-yong resmi ditutup".

Tak ada lagi godaan pemanggilan, tak ada lagi kontrak baru bagi pelatih asal Korea Selatan itu. Drama series  berjudul “Pelatih yang Ditukar", pun rasanya sudah habis episodenya. Yang tersisa hanya satu pesan sederhana; move on!

Mungkin agak sulit. Sebab kita sempat terlena menaruh harapan pada figur, bukan pada sistem. Padahal, fondasi dan sistem itulah yang sebenarnya sedang dan seharusnya dibangun.

Dalam konferensi pers itu, PSSI juga menegaskan beberapa hal penting.

Federasi kini tengah menyeleksi pelatih baru. Pelatih yang bukan sekadar bisa membuat publik bangga sesaat, tapi pelatih yang bisa berjalan lurus di atas blueprint panjang menuju Piala Dunia 2034.

Untuk jangka menengah, blueprint-nya tetap sama:

Indonesia harus lolos ke 16 besar Piala Asia 2027, dan menembus Piala Dunia 2030.

Baru setelah itu, Piala Dunia 2034 adalah the real target.

Sebuah rencana panjang yang terkesan realistis dan jelas arahnya.

November nanti, Timnas senior tidak akan bertanding di FIFA Matchday. Langkah ini bukan mundur, tapi demi mengalihkan fokus untuk Timnas U22 menuju SEA Games 2025. Sebuah upaya meraih kembali emas seperti edisi sebelumnya.

Nama-nama seperti Ivar Jenner, Adrian Wibowo, dan Marselino Ferdinan sudah disiapkan menjadi tulang punggung. Sementara Coach Nova naik kelas, dipercaya melatih Timnas U20. Keputusan menjaga kesinambungan dan pamor pelatih lokal.

Di luar lapangan, rumor absurd bahwa Indonesia akan keluar dari AFC dan bergabung dengan Jepang serta Korea Selatan, PSSI menegaskan, isu itu hoaks. Federasi yang sedang membangun merasa tidak perlu ikut-ikutan sensasi.

Yang menarik, fondasi di balik layar tetap kokoh. Alexander Zwiers masih menjabat Direktur Teknik. Jordi Cruyff tetap menjadi penasihat teknis.

Simon Tahamata terus memantau bakat-bakat muda.

Tiga nama yang jarang muncul di layar kaca, tapi merekalah penjaga arah agar blueprint tidak berhenti di teori.

Jadi, kalau hari ini masih ada yang meratap kehilangan STY, mungkin perlu diingatkan lagi, bahwa STY ada masanya, tapi Timnas selamanya.

Sebuah pelajaran. Jangan mabuk pada sosok,

mabuklah pada blueprint transformasi yang sedang dijalankan PSSI. Sebab, pelatih boleh datang dan pergi,

tapi sistem yang lemah bisa menjauhkan prestasi.

Pahamilah. Sepak bola yang besar tidak tumbuh dari nostalgia, tapi dari keberanian untuk benar-benar move on deni masa depan.

Dan untuk PSSI, selanjutnya tolong jangan kebanyakan dalih kalau tak siap dalil. Manakala gagal dan gagap lagi.

Mari kita  terus berjuang.

 

Tabik.

 

Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepak Bola

    Terbaru

    Terkait