PSSI (Dok. PSSI)

Mimpi Dalam Mimpi ke Piala Dunia

Kalau Timnas Indonesia itu manusia, mungkin dia sedang tidur tapi nggak tenang. Menghadap kanan salah, menghadap kiri salah. Dan terlentang-tengkurap pun salah.  Perasaanya "tabola-bale". Mimpi dan khayalnya bertumpuk. Bukan mimpi sederhana macam naik haji atau punya kuburan di Sandiego Hill, tapi mimpi dalam mimpi mentas di Piala Dunia.

Lucunya, sejak awal tidak ada yang benar-benar menargetkan kita lolos ke Piala Dunia 2026. Lihat saja jejak digitalnya di rentang Januari awal tahun ini. Sang Exco, Arya Sinulingga yang bicara.

Jadi, ketika gagal, ya sebenarnya tidak gagal juga, karena memang tidak ada target kesono. Ibarat ikut lomba lari tanpa daftar, begitu finish kita nggak kalah, tapi juga nggak menang. Nyaman kan?

Kemudian, munculah drama Shin Tae-yong disuruh pulang. Alasannya? Simpang-siur. Tapi intinya, apa lagi kalau bukan karena mimpi 2026 terasa ketinggian, padahal 2030 katanya baru “target sebenarnya”.

Jadi, ini semacam investasi jangka panjang, kayak nabung emas di aplikasi, cuma bedanya ini nabung mimpi.

Kita sudah coba segala cara. Pake pemain lokal, naturalisasi pemain, uji coba kesono-kemari, ngeborong paket pelatih, sampai bikin nyuruh yang junior keliling Eropa.

Semua bagus di Instagram, tapi begitu turun ke lapangan, rasanya seperti anak kos yang habis belanja bulanan, tapi lupa lupa isi token listrik. Ada aja, masalahnya.

PSSI kadang mirip orang yang ingin cepat-cepat punya six pack. Beli suplemen, ikut gym, sewa personal trainer, tapi begitu tiga minggu jalan, bosan, lalu ganti metode baru. Hasilnya? Yang ada perut makin buncit, tapi tetap percaya diri posting foto “progress day 20”.

Gak salah, buat orang yang sedang menata mimpi. Apalagi  mimpi dalam mimpi.

Tahun 2026 hanya semacam teaser, 2030 baru film panjangnya. Tapi, ya Allah, kalau tiap kali gagal kita bilang “bukan target kok”, lama-lama kita ini bukan negara sepak bola, tapi negara suporter bola doang. Prestasinya kering, penontonnya nyaring.

Kadang juga, PSSI dengan Timnasnya, itu ibarat orang yang lagi tiduran di kamar kontrakan, sambil bilang, “Besok ah aku diet, olahraga, dan rajin nabung.” Sayangnya, besok itu entah kapan datangnya. "Ehk Tong, jangan ngancem hari esok, kalau hari ini lu kagak bisa kalahin!" Kata tukang daon di Pasar Ciledug. 

Tapi ya sudahlah, mimpi itu gratis. Dan di negeri yang serba ribet ini, kadang cuma mimpi yang bisa kita beli tanpa utang.

Selamat terus berjuang PSSI-ku... Timnasku...!

Tabik.

 

Penulis: Yusuf Ibrahim - Penikmat Sepakbola

 

    Terbaru

    Terkait