Bung Towel (Sportify Indonesia)

Catatan Pena Bung Towel: Indra Sjafri Pantas Promosi, Tapi Bukan Jadi Bempernya STY

 

Andai saja Indra Sjafri kelahiran Yeongdeok Korsel, niscaya ide mendirikan patung Indra Sjafri bakal langsung bergemuruh di jagat medsos. Nyaring bunyinya dan bersahut-sahutan.

Tapi untunglah, Indra Sjafri kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan Sumatera Barat. Maka puja-puji dan apresiasi untuknya jadi terasa pas. Tidak lebih, tidak kurang. Enak dan pas dilidah seperti racikan rendang khas masakan Padang.

Bahkan disela-sela pujian untuk dirinya karena mempersembahkan gelar juara Piala AFF U19 2024, Indra Sjafri tak lupa pasang badan untuk Arkhan Kaka. Ia lindungi anak asuhnya yang masih belia 17 tahun itu.

Dari mulutnya tak sekalipun keluar kalimat yang menyalahkan pemain. Bukan karena Indonesia juara, tapi Indra Sjafri adalah sejatinya pelatih. Bukan pelatih online apalagi pelatih gadungan yang mengaku-aku pelatih atau coach!!!

Indra Sjafri memang paham betul fase perkembangan pemain muda seperti Kaka yang masih 17 tahun. Maka ia sangat terganggu ketika Kaka, diserang alias dibully netijen.

Saya sendiri harus mengakui jarang memuji apalagi terkesima pada Indra Sjafri. Lebih banyak mengkritisi daripada mengapresiasi. Semoga ia tak salah paham jika berjumpa. Tapi kali ini, saya harus angkat topi untuk Indra Sjafri.

Dua kali juara Piala AFF U19 tahun 2013 dan 2024, generasinya Evan Dimas dkk serta Kadek Arel dkk.

Juara Piala AFF U22 2019 bersama Asnawi Mangkualam, Witan Sulaiman dan Osvaldo Haay. Ditahun yang sama 2019, meraih perak SEA Games yang kemudian ia ubah menjadi emas di SEA Games 2023 bersama Ernando Ari dan Ramadhan Sananta.

Saya pikir, Indra Sjafri telah menunjukkan dan membuktikan sesuatu untuk sepak bola Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir ini, ia telah memperlihatkan mental juara dan tangan dinginnya.

Ini tidak sederhana. Final U19 2013 di Sidoarjo. Final U19 2024 di Gelora Bung Tomo Surabaya. Final U22 2019 di Phnom Penh dan Final SEA Games 2023. Hanya kalah di final SEA Games 2019 Manila. Lima kali final dengan empat diantaranya berakhir juara adalah bukti tangan dingin dan mental juara di fase menentukan.

Sementara itu, mungkin sudah banyak yang lupa atau sengaja lupa, dilevel yang sama AFF U19 tahun 2022, Shin Tae-yong bahkan gagal meloloskan indonesia ke semifinal sekalipun.

Berstatus sebagai tuan rumah dengan venue Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Indonesia disingkirkan Vietnam dan Thailand karena kalah head to head. Marselino Ferdinand dkk yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U20 terhenti dipenyisihan grup lalu Shin Tae-yong sibuk uring-uringan menyalahkan regulasi head to head yang disebutnya sebagai regulasi aneh. Ia juga menuding Vietnam dan Thailand bermain tidak fair play.

Drama kemudian berlanjut. Netijen tersulut dan mendesak PSSI keluar dari AFF. Untunglah, PSSI tidak terpancing. Tetap bertahan di AFF. Andaikan jadi keluar, eforia keberhasilan juara kemarin di Surabaya tentunya tak bakal terwujud.

Maka, sangatlah penting mengelola sepak bola apapun situasinya tetap bersikap obyektif dan berkepala dingin. Jangan mudah menyalahkan siapapun. Karena itulah, saya berpandangan Indra Sjafri layak dipromosikan menangani timnas senior pada waktu yang tepat.

Saya tidak sependapat bahwa Indra Sjafri hanya cocok untuk timnas junior atau kelompok umur. Luis de la Fuente adalah contoh pas bagaimana pelatih yang sukses bersama timnas junior akhirnya mempersembahkan gelar juara EURO 2024 bagi Spanyol.

Luis de la Fuente sebelumnya pernah juara bersama timnas u19 Spanyol di Euro 2015, juara di Euro U21 tahun 2019, lalu medali perak Olimpiade Tokyo 2020. Sampai akhirnya dipercaya menangani timnas senior dengan sukses di UEFA Nation League 2023 dan Piala Eropa 2024 kemarin.

Jadi siapa bilang Indra Sjafri spesialis timnas kelompok umur saja? Itu label yang mendikotomi dan belum terbukti kebenarannya karena Indra Sjafri harus diuji dan diberi kesempatan lebih dahulu. Persoalannya adalah kapan?

Maka saya menyarankan diwaktu yang pas, tapi bukan untuk Piala AFF November-Desember tahun ini.

Sederhananya, jangan posisikan Indra Sjafri sebagai bemper untuk STY. Jangan ada alasan karena STY fokus untuk ronde tiga kualifikasi Piala Dunia 2026, lalu AFF 2024 dialihkan ke pelatih lain entah itu Indra Sjafri atau Nova Arianto. Intinya, tetap fokus pada pembagian tugas sesuai kontrak pelatih bahwa timnas senior adalah area dan tanggung jawabnya STY.

Apapun dan bagaimanapun caranya di AFF nanti itu adalah urusannya STY. Setidaknya contoh atau barometer sudah diperlihatkan oleh Indra Sjafri. AFF U19 kemarin memang bukan target utama, tapi Indra Sjafri dan timnas U19 sudah membuktikan, meski baru target antara mereka tetap bersungguh-sungguh dan mengincar juara.

Artinya, jika Indra Sjafri bisa dan konkrit mempersembahkan gelar juara, harusnya STY pun bisa. Tidak banyak alasan!

 

Penulis: Bung Towel

    Terbaru

    Terkait