Janji “Bersih-bersih” yang dicanangkan Erick Thohir sejak hari pertama pencalonannya sebagai Ketua Umum PSSI mulai merambah ketubuh internal organisasi PSSI. Tidak serta merta memang. Setidaknya butuh waktu satu setengah tahun bagi Erick Thohir untuk menjalankan operasi “bersih-bersihnya” ditubuh PSSI sendiri, dengan memecat 43 karyawan PSSI yang beritanya mencuat sejak pekan lalu.
Samar-samar atau sayup-sayup, penulis sendiri sudah mendengar isu PHK massal di PSSI ini sekitar satu bulan lalu. Katanya sedang dilakukan asesmen atau penilaian terhadap kinerja karyawan PSSI oleh pihak konsultan. Bersih-bersih ini juga sekaligus sebagai upaya perampingan tubuh PSSI yang dinilai “kegemukan” mencapai 100-an karyawan alias tidak efisien
Terus terang penulis sama sekali tidak kaget mendengar isu itu. Bahkan penulis menganggap “bersih-bersih” adalah suatu keharusan sesuai janji Erick Thohir. Apalagi toleransi waktu sudah diberikan. Bersih-bersih tidak serta merta langsung dilakukan Erick Thohir sejak awal menjabat tapi ada toleransi waktu sekitar satu setengah tahun sebelum akhirnya terjadilah bersih-bersih berupa PHK massal seperti sekarang.
Jadi pemecatan karyawan PSSI adalah hal yang lumrah. Bukan kali pertama terjadi. PHK karyawan PSSI sudah pernah terjadi juga diperiode-periode sebelumnya. Artinya menjadi karyawan organisasi olah raga seperti PSSI memang tidak akan selamanya. Exco PSSI dibatasi oleh statuta hanya tiga periode saja bisa menjabat. Masa kerja karyawan memang tidak diatur dalam statuta, tapi bukan berarti bisa untuk selamanya. Artinya ukuran karyawan adalah kinerja.
Penulis sendiri pernah menjadi bagian dari PSSI pada periode 2013-16 sebagai Direktur Kompetisi dan tambahan kerja sebagai Football Development. Jadi tahu betul dan cukup pahamlah ‘jeroannya” PSSI.
Ketika terjadi pergantian kepemimpinan di PSSI, lewat KLB November 2016, penulis beserta beberapa direktur PSSI lainnya, kemudian mendapatkan surat pemberhentian. Hanya diantarkan oleh kurir. Jadi jangankan pesangon atau proses asesmen seperti yang dialami 43 karyawan PSSI yang di PHK sekarang, basa-basi pun tak ada. Kecewa? Tidak. Marah? Tidak perlu. Dendam? Buat apa…Bagi penulis itulah dinamika menjadi pengurus olah raga. Tidak akan selamanya.
Nah, balik keupaya bersih-bersih PSSI, ini memang keharusan dan tanggung jawabnya Erick Thohir. Mulai dari mana? Ya dari rumahnya dulu alias organisasi PSSI nya.
Bahwa kemarin-kemarin Erick Thohir fokus membenahi timnas dan merambah ke kompetisi, maka sekarang waktunya beres-beres rumah. Apa yang harus diberesi? Yang pertama ya orang-orang yang tinggal didalam rumah itu alias SDM nya. Dalam bahasa sepak bola, mereka adalah staf kesekjenan. Termasuk para direktur berbagai bidangnya.
Yang menarik dari upaya bersih-bersih itu, sekjen beserta deputi sekjen masih aman. Belum tersentuh atau belum menjadi bagian dari PHK massal tersebut. Padahal seluruh personel atau SDM dikesekjenan ada dibawah pimpinan dan tanggung jawab sekjen.
Jadi kalau penilaian kerja karyawan PSSI baik itu direktur maupun staf dibawahnya dianggap buruk atau negatif, bukankah sekjen pun harus bertanggung jawab juga. Kalau jumlah karyawan PSSI tidak efisien dan kegemukan, bukankah sekjen yang harusnya paling tahu kebutuhan personel dan SDM di PSSI.
Jadi kenapa sekjen sebagai pimpinan masih aman sementara 43 karyawan dibawahnya terkena PHK massal? Bukankah pepatah mengatakan, Ikan busuk dari kepalanya? Bukankah kalau pimpinannya bermasalah, bawahannya akan bermasalah juga.
Sebagai gambaran, Exco PSSI Arya Sinulingga menjelaskan bahwa pihaknya menemukan karyawan nakal yang memperjualbelikan asset digital PSSI dan mendaftarkan rekening pribadi atas channel Youtube PSSI. Ini kan hal yang serius. Sekian lama penyelewengan itu terjadi dan tanpa sepengetahuan sekjen sebagai atasan langsungnya? Rasanya tidak masuk akal. Setidaknya kalau masih memiliki moral merasa ikut bertanggung jawab, jika tidak mau di PHK, ya tahu dirilah untuk mundur.
Sebagai penutup, saran penulis untuk Ketua Umum Erick Thohir adalah pakai momentum bersih-bersih ini dengan kuat dan menyeluruh. Jangan tebang pilih. Buang yang sudah terpapar polusi dan biang polusinya sekaligus.
Bahkan kalau bisa, gunakan momentum bersih-bersih organisasi ini ke aspek selanjutnya yakni penegakan disiplin. Mumpung momentumnya ada, asesmen dan cek ulang personel atau SDM Komdis terutama yang terkait isu penegakan disiplin match fixing dan integritas sepak bola. Ayo bersih-bersih.
Penulis: Bung Towel