Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia

Menyongsong Kongres Tahunan PSSI, Ketum PSSI Sendiri di Tengah Keramaian

Kongres Tahunan PSSI akan dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2024 di Jakarta. Kongres tahunan ini adalah agenda tetap pssi bersama anggota pssi untuk menetapkan kebijakan organisasi. Bersama ketua umum pssi yg baru yaitu Erick Thohir kita berharap kongres tahunan pssi periode ini dapat memberikan terobosan baru dalam pengelolaan sepakbola baik dari sisi organisasi, permainan sepakbola, kualitas liga dan timnasional. 

 

Namun sepertinya kita perlu menunggu lebih lama lagi untuk dapat melihat itu terwujud, minimal itu sepertinya sulit terwujud di Kongres tahunan pssi 2024, karena seperti halnya tahun sebelumnya kongres tahunan hanyalah menjadi agenda formalitas pssi tanpa ada sebuah terobosan yg mengesankan.

 

Hal ini tercermin dari susunan agenda kongres yang tidak menggambarkan suasana kebatinan ketum pssi erick thohir. Misalnya , mengenai peringkat liga indonesia di asia yg no 26, dan no 6 di asean, sudah diutarakan beberapa kali kegelisahan ini. Kualitas kompetisi dan performa klub-klub liga indonesia di kompetisi asia perlu di boosting. Lalu kemudian soal penegakan disiplin, berkali-kali disinggung oleh ketua umum pssi terlihat di caption sosial medianya hanya dianggap seperti angin lalu oleh perangkat hukum di pssi. 

 

Soal naturalisasi tim nasional pun , yang bekerja untuk mempercepat proses naturalisasi berbicara lebih sedikit. Justru yg tidak bekerja atau memiliki andil tampak lebih fasih berbicara naturalisasi dibanding pekerjaan utamanya.

 

Jadi saya tidak melihat refleksi kegundahannya erick thohir ini ditampung atau teraktualisasi di dalam kongres tahunan pssi. Itu tercermin dari agenda kongresnya. 

 

Erick thohir seperti sendirian di tengah keramaian. Para pengurus pssi dan lib seperti tidak memahami kegundahan itu, lebih jauh lagi tidak mampu menterjemahkan dan mengaktualisasikan program untuk mencapai goal yang diinginkan ketum pssi erick thohir, yaitu kompetisi yang berkualitas, bersih, bermartabat dan memiliki value yang tinggi di mata sponsor.

 

Kompetisi berkualitas? Kita peringkat 26 asia dan 6 di asean.

 

Bersih? Masih banyak praktek match fixing  dan match setting di semua strata kompetisi. Skor mencolok 7-0 di liga 1 misalnya dimana tim degradasi mengalahkan tim papan tengah. Di liga 3, ada 1 exco dengan bangga membusungkan dada berhasil membawa 3 klub liga 3 promosi ke liga 2

 

Bermartabat? Masih banyak pelanggaran disiplin baik di lapangan & diluar lapangan yg melibatkan pemain, official dan suporter. Legitimasi para pengadil di lapangan pun masih perlu terus terjadi. Hukumannya pun masih tebang pilih

 

Value kompetisi tinggi? Sponsor Utama untuk kompetisi  kita masih melihat didominasi oleh bumn yg memang sudah rahasia umum ini karena andil erick thohir yang juga menteri bumn.

 

Problem-problem ini yang seperti luput atau sengaja diluputkan dalam kongres tahunan pssi, disamping publik lebih antusias terhadap timnas dibanding kompetisi domestik, namun senang bicara jargon pembinaan. Ironis, tapi itu kenyataannya.

 

Budi Setiawan

Founder Football Institute

    Terbaru

    Terkait