Kalau ukurannya sekadar menang, timnas U19 memang menang. Tapi menang cuma 2-0 atas Kamboja, jelas persoalan. Seumur-umur, rekor pertemuan Indonesia dengan Kamboja selalu menang. Pernah menggunduli Kamboja 10-0 di SEA games 1995. Lalu 8-0 di AFF 2004. Jadi menang atas Kamboja tak pernah dianggap sesuatu yang hebat, bahkan dengan skor besar sekalipun.
Sekarang, timnas U19 jangankan menang besar, menang hanya 2-0 pun harus dengan susah payah. Bayangkan, selama 70 menit, tuan rumah Indonesia mendominasi dan mengurung pertahanan Kamboja. Tapi tak satupun gol tercipta dari permainan terbuka. Menguasai bola dari kaki ke kaki, tapi tak satu pun “killer pass” atau umpan mematikan yang berhasil dibuat. Semuanya mentok begitu memasuki area penalty lawan.
Gol akhirnya memang tercipta pada menit 71 dan 86. Itupun keduanya dari skema bola mati lewat sepak pojok. Gol dari dua stopper muda, Kadek Arel dan Iqbal Gwijangge menyelamatkan wajah Indonesia sekaligus muka Indra Sjafri dari hasil memalukan ditahan imbang Kamboja.
Sundulan Kadek Arel dan serbuan Iqbal Gwijangge memang patut diapresiasi. Tapi itu tidak cukup untuk menghindarkan Indra Sjafri dan timnas u19 dari sasaran kritik. Alarm nyaring pantas dbunyikan untuk Indra Sjafri dan skuad mudanya.
Kalau dengan Kamboja saja susah payah menang 2-0, lalu apa kabar target besar Indra Sjafri dan timnas u19 untuk lolos ke Piala Dunia U20 di Chile tahun depan 2025?
Ingat, Kamboja itu hanyalah negara kecil yang luasnya tak lebih besar dari provinsi Aceh dan Sumut yang akhir tahun ini bakal jadi tuan rumah PON XXI 2024. Sangat mungkin sepak bola mereka sedang bebenah dan sudah mulai berkembang. Tapi itu bukan alasan, kecuali sepak bola Indonesia sedang tidur atau masih jalan ditempat. Kamboja bahkan tidak mempunyai pemain naturalisasi. Sebaliknya Indonesia sudah menambah amunisinya dengan diaspora Welber Jardim dan naturalisasi Jens Raven.
Training Center (TC) sudah dilakukan sejak Desember akhir tahun lalu. Mulai dari Qatar, Jakarta, Italia (Como) hingga turnamen Toulon Perancis sudah diberikan. Tapi lawan Kamboja saja, seolah tak terlihat sedikitpun bekas sentuhan TC diluar negeri. Jadi apa saja yang selama ini dilakukan Indra Sjafri? Permainan Doni Tri Pamungkas dkk malah terlihat monoton. Jangan-jangan tuah dan sentuhan Indra Sjafri sendiri sudah mulai habis atau kadaluarsa.
Sekadar mengingatkan juga, catatan kritis ini saya sampaikan bukan atas desakan netijen yang menghendaki saya untuk mengkritisi Indra Sjafri dan timnas U19. “Jangan cuma kritik STY aja, kritik tuh Indra Sjafri..,” Begitu celoteh nyaring netijen yang berhamburan dijagat medsos.
Yang pasti, saya menyampaikan catatan kritis kepada siapapun entah itu STY atau Indra Sjafri karena ada argumentasi sepak bolanya. Karena kalau saya mengikuti jalan pikiran netijen belakangan ini, pastilah saya akan mengusulkan Indra Sjafri diganti STY saja. Alasannya tentu saja mengutip cara berpikir netijen bahwa STY lebih level Asia dibandingkan Indra Sjafri. STY sudah terbukti berhasil membangun fondasi timnas senior. Caranya? Lewat program naturalisasi.
Jadi kalau mau Indonesia lolos ke Piala Dunia U20 Chile 2025, segera ganti Indra Sjafri dengan STY yang katanya sukses membangun fondasi timnas Indonesia. Lalu jangan lupa, lengkapi STY dengan pemain-pemain naturalisasi atau diaspora, karena Jens Raven dengan Welber Jardim saja tidak cukup.
Lihat saja kemarin, bagaimana Jens Raven hanya berlari-lari dan banyak kehilangan bola ketika diberi kesempatan bermain di babak kedua menggantikan Arkhan Kaka. Padahal yang namanya pemain naturalisasi kan harusnya punya kualitas skill yang diatas rata-rata bukan? Tapi kok lawan Kamboja saja, Jens Raven terlihat biasa-biasa saja ya..
Penulis: Bung Towel