Sportify.id - Di balik gemerlap kemenangan Spanyol atas Argentina pada final Piala Dunia 2026, tersimpan kisah personal seorang pelatih yang mencatatkan sejarah baru dalam dunia sepak bola. Luis de la Fuente, pelatih kepala Timnas Spanyol, kini resmi menyandang status sebagai pelatih tertua yang pernah membawa timnya menjuarai turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia di usia 65 tahun 28 hari.
Pencapaian De la Fuente ini melampaui rekor yang sebelumnya dipegang rekan senegaranya sendiri, Vicente del Bosque, yang berusia 59 tahun 220 hari ketika mengantar Spanyol meraih gelar juara dunia pertama mereka di Afrika Selatan pada 2010.
Menariknya, berbeda dengan banyak pelatih top dunia lain, De la Fuente dikenal tidak memiliki rekam jejak melatih klub-klub elite Eropa sebelum menukangi timnas senior Spanyol, sebuah latar belakang yang sempat membuat penunjukannya diragukan banyak pihak ketika pertama kali diumumkan.
Di bawah asuhannya, Spanyol menjalani transformasi permainan yang menekankan penguasaan bola tinggi sekaligus regenerasi skuad secara masif, dengan memberi kepercayaan besar kepada pemain-pemain muda seperti Lamine Yamal dan Pau Cubarsi untuk tampil sebagai starter di panggung terbesar sepak bola dunia.
Pendekatan ini terbukti efektif, dengan Spanyol berhasil melewati seluruh rangkaian pertandingan Piala Dunia 2026 tanpa mengalami satu pun kekalahan, sekaligus melengkapi koleksi gelar Nations League 2023 dan Euro 2024 yang lebih dulu diraih di bawah kepemimpinannya.
Kisah sukses De la Fuente ini menjadi pengingat bahwa jalur karier kepelatihan di sepak bola modern tidak selalu harus ditempuh melalui pengalaman melatih klub-klub besar Eropa.
Perjalanan panjangnya melatih berbagai jenjang usia di tim nasional Spanyol, mulai dari level junior hingga akhirnya dipercaya menukangi tim senior, dinilai banyak pengamat sebagai fondasi penting yang membentuk pemahaman mendalamnya terhadap karakter dan potensi pemain-pemain muda Spanyol saat ini.
Pencapaian bersejarah ini turut menjadi inspirasi bagi kalangan pelatih di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang tengah gencar membangun ekosistem pembinaan usia muda sebagai fondasi jangka panjang prestasi sepak bola nasional.